ANALISIS KAIDAH ( MANTUQ GHAIRU MAKTUB ) DAN PROBLEMATIKANNYA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS ARAB
ANALISIS KAIDAH ( MANTUQ
GHAIRU MAKTUB ) DAN PROBLEMATIKANNYA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS ARAB
Mahmudah dan Nindi Aprilia
Manoppo
Abstrak
:
Tulisan
ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kaidah mantuq ghairu maktub dalam
hal berfokus pada pola penulisan mantuq ghairu maktub. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kajian pustaka. Fokus penelitian ini adalah
analisis kaidah mantuq ghairu maktub terhadap pola mantuq ghairu maktub (dapat
dibaca tapi tidak tertulis) atau kaidah hadf (penguranagan huruf) dan problematikannya dalam menulis arab. Berdasarkan hasil
peniltian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, penulisan
bahasa Arab harus sesuai tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai
kaidah yang berlaku pada penulisan bahasa Arab. Hal itu lantaran teks Al-Quran
yang sampai pada kita sekarang menggunakan standar rasm mushaf utsmani. Dalam
pengurangan huruf ini atau kaidah mantuq ghairu maktub yang dapat dibaca namun
tidak tertulis terdapat pola, ada beberapa pengurangan yaitu ; alif, ya’, dan
wawu dan lam.
Kata
Kunci : Qawaidul Imla wal Khat, Mantuq Ghairu Maktub
Pendahuluan :
Bahasa arab adalah bahasa dunia setelah
bahasa inggris yang di gunakan oleh penduduk dunia dalam kehidupanya, apalagi
sebagai muslim di tuntut beribadahnya menggunakan bahasa arab khususnya shalat.
Dalam bahasa arab penggunakan kaidah-kaidah sangat menentukan arti dari bahasa
itu sandiri, karena kaidah yang ada di bahasa arab lebih banyak di gunakan di
bandingkan bahasa arab sehingga bahasa arab lebih sulit untuk di pelajari orang
Indonesia di bandingkan bahasa inggris. Dalam penulisan bahasa arab di perlukan
ketelitian oleh karena itu latihan qowa idul imla merupakan salah satu
pelajaran penting bagi pelajar yang khususnya jurusan bahasa arab untuk melatih
menulis tulisan bahasa arab Jadi sebelum ke metode imla, kita hendaklah belajar
terlebih dahulu tentang Qawa id.
Qawaid itu sendiri adalah tata bahasa
untuk menyusun kalimat di dalam Bahasa Arab, bila kita sudah menguasai Qawa id
secara baik, metode selanjutnya adalah dengan belajar imla. Dengan kita
mempelajari Imla, yang dimana bahasa arab adalah salah satu bahasa
internasional setelah bahasa inggris, maka kita sebagai seorang muslim
hendaklah mendalami bahasa arab, dengan teknik imla ini bisa memudahkan kita
untuk cepat mengerti bahasa arab, jadi secara tidak langsung kita juga
mampelajari salah satu bahasa internasional dan itu adalah keuntungan kita
sendiri. Dapat disimpulkan bahwa belajar Bahasa Arab kita harus menguasai
Qawaid dan Imla, dengan menguasai metode tersebut penguasaan Bahasa Arab kita
menjadi baik.
Qowaid Imlak merupakan mata kuliah
dasar kebahasaan yang memberikan bekal pengetahuan pada mahasiswa tentang
penulisan bahasa Arab dengan baik dan benar. Serta mata kuliah ini membahas
tentang kaidah-kaidah Imla yang telah disepakati oleh para pakar bahasa Arab,
yang meliputi: berbagai macam penulisan hamzah, al-washlu dan al-fashlu, ta’
marbuthoh dan maftuhah, alif layyinah, al-ziyadah dan al-hadzf, serta alamat
tarqim, dan diharapkan mahasiswa mampu menulis bahasa Arab dengan baik dan
benar.
Untuk
memperoleh penulisan Arab yang benar bahkan bagus diperlukan pengetahuan
tentang kaidah menulis Arab (qawaidul imla’al- Arabiy wal khath al-“Arabiy).
Kaidah imlak merupakan ketentuan penulisan kata-kata dan kalimat Arab yang
tingkat kebenarannya dapat dilihat diantaranya dari aspek nahwu dan sharaf,
ilmu ashwat terkait dengan makharijul huruf, dan kaidah penulisan huruf-huruf
sendiri. Adapun kaidah khath merupakan aturan penulisan huruf, kata, dan
kalimat dengan indah sesuai dengan jenis khath yang dimaksud. Kaidah khath
menjadi penyempurna bagi kaidah imlak, karena tulisan yang indah akan
memberikan nilai tambah bagi seorang pembaca, seperti mudah dibaca, menarik
karena indah dipandang mata.
Pada
dasarnya, penulisan bahasa Arab harus sesuai antara apa yang tertulis dan apa
yang diucapkan, tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai kaidah yang
berlaku pada penulisan bahasa Arab. Penulisan semacam ini dikenal dengan “rasm
imla’i”. sementara itu, dalam penulisan mushaf Al-Quran yang kita ketahui
bersama terdapat beberapa penulisan yang berbeda dan tidak sesuai dengan pola penulisan
bahasa Arab secara konvensional.
Hal itu
lantaran teks Al-Quran yang sampai pada kita sekarang menggunakan standar rasm
mushaf utsmani. Secara definitive, rasm mushaf usmani adalah penulisan
kalimat-kalimat atau huruf-huruf Al-Quran yang dilaksanakan dan disahkan oleh
Khalifah Utsman bin Affan RA.
Tujuan kajian ini difokuskan pada
penjelasan untuk definisi dari mantuq ghairu maktub, penulisan kaidah mantuq
ghairu maktub, pola kaidah hafdz (pengurangan huruf), problematika dalam
pembelajaran menlis arab.
Manfaat kajian ini adalah untuk
mengetahui definisi dari mantuq ghairu maktub, macam-macam pola penulisan dalam
Al-Quran, kaidah penulisan mantuq ghairu maktub dan problematika dalam menulis
arab.
Pembahasan
:
A.
Pengertian
Mantuq Ghairu Maktub
Mantuq (المنطوق ) artinya adalah yang
diucapkan, yang tersurat atau teks, dan lain-lain. Mantuq dalam istilah ilmu
ushul fiqh adalah : “ Sesuatu yang ditunjuk oleh lafadz sesuai dengan teks
ucapan itu.”
Sedangkan
Maktub secara bahasa artinya tidak tertulis. Jadi, mantuq ghairu maktub adalah
huruf yang sering dibaca atau dilafadzkan namun tidak tertulis.[1]
B.
Macam-Macam
Pola Penulisan Al-Quran
Penulisan
mushaf memiliki beberapa kaidah (pola penulisan) baik dalam khat dan rasm-nya.
Pola penulisan ini terbagi enam, yaitu :
1. Kaidah
hadf (pengurangan huruf). Dalam pola ini ada beberapa pengurangan ; alif, ya’,
dan wawu dan lam.
a. Pengurangan
huruf alif, seperti lafadz : (سبحن)
(الرّحمن), penulisan yang baku dalam bahasa Arab
seharusnya (سبحان) (الرّحمان).
b. Pengurangan
huruf ya’ seperti, (غيرباغ),
penulisan secara imla’I seharusnya (غيرباغي).
c. Pengurangan
huruf wawu seperti, (يمح الله) (يدع), penulisan yang baku dalam bahasa Arab
seharusnya (يمحو اللّه) (يدعو).
d. Pengurangan
huruf lam, seperti (الذي)(اليل), penulisan bahasa Arab yang benar
seharusnya (اللذي) (الليل).
2.
Pola penambahan huruf, yakni
alif, wawu dan ya’.
a.
Penambahan huruf alif,
seperti (مائة), penulisan yang benar dalam bahasa Arab
seharusnya (مئة).
b.
Penambahan huruf ya’ seperti
(بأييد), penulisan yang benar dalam bahasa Arab
seharusnya (بأيد).
c.
Penambahan huruf wawu seperti
(أولو) (أولئك),
penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (أولو) (أولئك).
3.
Pola penulisan hamzah, secara
ringkas bahwa hamzah sukun ditulis sesuai huruf harakat sebelumnya, seperti
pada lafadz (آئذن) (آوتمن) (البأساء). Sedangkan hamzah yang berharakat apabila di
awal kalimat dan bersambung dengan huruf tambahan, maka ditulis dengan huruf
asli, baik berharakat fathah maupun
berharakat kasrah, seperti (سأنزل) (إذا) (أيوب). Adapun apabila hamzah berada di
tengah-tengah kalimat, mak ia ditulis sesuai dengan jenis harakatnya, seperti (تقرؤه) (سئل)
(سأل). Sementara hamzah yang berada di ujung
kalimat, maka ditulis sesuai dengan harakat sebelumnya, seperti (شاطئ
) (لؤلؤ) (سبأ)
4.
Pola pergantian huruf dengan
huruf yang lain, seperti pergantian
huruf alif dengan huruf wawu pada kalimat berikut ini (الحيوة)
(الزكوة) (الصلوة), penulisan
yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الحياة)
(الزكاة) (الصلاة)
5.
Pola persambungan dan pemisahan
huruf dengan huruf yang liana tau sebaliknya.
a.
Pola persambungan seperti (ألن نجمع عظامه) yang lazimnya ditulis (أن
لن نجمع عظامه).
b.
Pola pemisahan seperti (أنّ ما)
yang lazimnya ditulis (أنّما).
6.
Pola tulisan yang meiliki dua
bacaan, yaitu seperti (يُخَدِعُوْنَ)
(مَلِكِ يَوْمِ الّدِّيْنِ), kedua
contoh tersebut dalam mushaf tidak ditulis huruf alif sebagai tanda panjang
namun ada riwayat yang membaca panjang. Seharusnya, secara penulisan imla’I di
tulis sebagai berikut (يُخاَدِعُوْنَ)
(مَالِكِ يَوْمِ الّدِّيْنِ). [2]
C.
Penulisan
Mantuq Ghairu Maktub
Dalam kaidah imla’, ada
beberapa huruf yang sering dibaca atau dilafadzkan, namun tidak tertulis.
Sebagaimana pada contoh kata berikut. (لكن-هذا), kata lakin huruf lam pada
hakekatnya dibaca panjang, demikian pula pada kata ha, semestinya tulisannya (لاكن- هاذا), akan tetapi tidak ditulis
demikian, namun tetap dibaca panjang.
Kaidah: Penulisan membaca panjang huruf yang
tidak tertulis terjadi pada beberapa huruf.
1.
Huruf waw (و), seperti pada kata ( داود), bukan ditulis داوود) (
namun dibaca panjang pada huruf waw (و). Kata (طاوس )
bukan ditulis
( طاوُوْس),
namun dibaca panjang pada huruf kata )waw).
2.
Huruf alif (ا),
seperti pada kata (لكن), bukan ditulis (لاكن ),
namun dibaca panjang pada huruf kata lam
(لا). Kata (ذلك ) bukan ditulis (ذالك),
namun dibaca panjang pada huruf kata dza (ذ ).
Huruf Alif yang tidak dibaca terdapat pada beberapa hal.
a. Alif pada Lafdzul Jalalah ((الل
b. Alif pada huruf lam ((إله,
أولئك
c. Alif pada huruf mim ((الرحْمن, السموات
d. Alif pada huruf ha ( (إسحق,
هرون
D.
Problematika
dalam Menulis Arab
Tata-tulis yang tidak sesuai
dengan tata-tulis Imla’
Ini yang
sering menjadi masalah, karena anak didik sudah terbiasa sejak dari belajar
Tajwid. Diantara tata-baca yang tidak sesuai dengan pelajaran mereka adalah
tanda panjang alif (ا) sesudah Fathah, seperti tanda panjang
Wawu (و) sesudah Dhommah, dan Ya (ي)
sesudah Kasrah, menandakan bacaannya harus panjang, dengan ukuran tertentu sesuai dengan keadaan
susunan kalimatnya yang dinamakan bacaan mad. Ada yang bernama “ mad wajib “,
dan ada yang “mad jaiz”, dan seterusnya.
Di dalam Al-Quran mereka berhadapan dengan keadaan
lain, diantaranya:
a.
Tata-tulis
yang “ مَنْطُوْقٌ وَلاَ مَكْتُوْبٌ ” ( dibaca tapi tidak
tertulis ).
Seperti “ مَلِكِ ” di al-Fatihah, “مِيْعَدٌ” di al-Anfal : 42, “مَسْجِدَ” di at-Taubah : 12, “سِرْجاً” di al-Furqan : 61, “لَبِثِيْنَ” di al-Saba’: 23, dan “ سَمَوَاتٍ” di banyak ayat, dan masih banyak lagi, misalnya di Juz 1 saja
terdapat 204 kata, yang menggambarkan adanya bacaan panjang tetapi dilambangkan
dengan harakat “ فتحة “ berdiri diatas atau di depan huruf tanpa Alif (ا) dan di
beberapa kata yang lain memakai Alif (ا).
Karena anak didik belum memahaminnya, maka
pada tahap pemula diberitahukan bahwa pada hakekatnya harakat dalam posisi
tegak berdiri di atas atau di belakang huruf adalah sama dengan bacaan panjang
yang memakai Alif (ا) seperti
yang mereka kenali di dalam pelajaran Tajwid.
Sedangkan bagi anak didik yang sudah
memahaminya perlu diberi penjelasan
sesuai dengan tingkatannya. Misalnya dijelaskan bahwa مَالِكِ (مَلِكِ) adalah صِيْغَة (bentuk) isim fa’il, dengan tanda huruf pertama dipanjangkan
dengan menggunakan Alif (ا), مَسْجِدَ (مَسَاجِدَ) merupakan
bentuk Sighah Muntaha al –Jumu’ dari kata مَسْجِدٌ, di al-Saba’ : 23, “لَابِثِيْنَ” adalah bentuk Jama’ Mudzakkar Salim dari kata "مِيْعَدٌ" (مِيْعَادٌ),"لَابِثِيْنَ" adalah Isim Zaman dan Makan"سِرْجًا"
(سِرَاجًا) adalah Isim
Jamid yang tidak diambil dari kata lain dan seterusnya. Kemudian di buatkan
kesimpulan tentang adanya bermacam-macam صيغة (bentuk kalimah), dan
diberikan sesuai dengan tingkat pendidikannya.
Karena yang demikian ini bisa jadi belum
diakrabi anak didik, maka perlu diterjemahkan dengan tata tulis Imla’
sebagaimana biasanya. Selanjutnya dijelaskan misalnya kata “جِيْءَ” merupakan bentuk Mabni Majhul dari kata “جَاءَ” yang menurut sebagian ahli tafsir ditambahkannya Alif (ا) di
belakang “ج” adlah
untuk mengingatkan betapa seramnya hari itu, dan betapa ngerinya neraka
jahanam. Akan tetapi apakah waktu itu Khalifah ‘Utsman dan para penulis yang empat orang itu memang
sengaja menambahkan Alif (ا) supaya
ditafsirkan demikian atau karena memang model tata-tulis Bahasa Quraisy seperti
itu, wallahu a’lam.
Mengenal bacaan “إِمَالَةْ” seperti “مَجْرَيْهَا” di Hud :
41 para ahli Qira’at berbeda pendapat tentang tempat-tempatnya. Anak didik yang
tidak diprogram secara spesialis, tidak perlu diajarinya, dan kalaupun
diajarkan bukan untuk di amalkandalam keseharian mereka, supaya supaya jangan
membingungkan orang banyak atau bahkan dijadikan bahan obrolan dan gurauan yang
tidak pada tempatnya.
b. Tata-tulis yang “مَكْتُوْبٌ وَ لَا
مَنْطُوْقٌ” (tertulis
tapi tidak dibaca)
Ada
yang melampaui satu huruf seperti “فَسَبِّحْ
بِاسْمِ رَبِّكَ” , “سَبِّحِ اسْمَ” dan juga
ada hamzah Washal (هَمْزَةُ الْوَصْلِ) lainnya,
dua huruf dalam ال “يُقِيْمُوْنَ
الصَّلاَةَ” serta “ال”
al-Syamsiyah (ال الشَّمْسِيَّةْ) lainnya,
dan tiga huruf اال dalam “وَلاَ
الضَّالِّيْنَ” dan empat huruf dalam
“”, dan masih banyak lagi yang dapat dijumpai. Berdasarkan kaidah Bahasa Arab
huruf-huruf tersebut tetap harus ada, akan tetapi karena tata-bacanya, maka
harus gugur atau tidak dibaca.
Mengenai “الَم” dan
huruf-huruf Muqatha’ah lainnya di awal surah, meskipun tidak diketahui apa arti
dan maksudnya, tetap dibaca secara eja yaitu “Alif” (أَلِفْ), Lam (لاَمْ) dan Mim (مِيْمْ), bukan
dibaca “اَلَمَ” dengan harakat fathah, kasrah atau
dhammah semua. Dalam hal ini yang ditirukan tata-bacannya, bukan membaca
tulisannya. Soal apa dan bagaimana artinya semua ahli tafsir sepakat untuk
menyerahkan kepada Allah, karena Rasul Allah dan para sahabat menirukan seperti
itu.
Yang
tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Arab (Tata-Tulis lmla’) seperti “مِائَةٌ” di
al-Baqarah : 259 dengan tambahan Alif (ا) sesudah Mim (م), (أَنَبُوْاْ) di al-
An’am : 5 dengan tambahan Alif (ا) di akhir , “أَنَا” di al-Kafirun dan lain-lain dengan
tambahan Alif (ا) di belakang Nun (ن), “أُولَئِكَ” di
al-Baqarah : 5 dan lain-lain dengan tambahan Wawu (و) sesudah
Hamzah (أ), demikian juga “أُوْلُوُا” di Ali Imran : 7 dan "سَأُورِيْكُمْ" di al-A’raf : 145. Semua tambahan
–tambahan ini tidak dibaca. [4]
Selanjutnya keberhasilan seseorang dalam menulis
banyak dipengaruhi oleh faktor, baik faktor intern maupun ekstern. Terampil
atau pandai menulis tidak terlepas dari proses belajar mengajar. Apabila
pembelajarannya dapat diikuti dengan baik maka hasilnya akan baik, sebaliknya
jika pembelajarannya kurang baik maka hasil kurang baik juga. Namun dalam PBM
dapat dipahami bahwa adanya hasil yang beragam adalah suatu yang wajar karena
tidak semua anak mempunyai kemampuan sama, seperti halnya dalam menulis Arab
ini. Apabila anak didik sudah mempunyai pengetahuan dasar dan sudah dapat
pengalaman belajar menulis maka kesalahan yang dilakukan tidak akan banyak
seperti yang dialami oleh anak yang belum pernah/ punya pengalaman sama sekali.
Penyebab kesalahan dalam menulis Arab ini khususnya dipengaruhi oleh banyak faktor.
Diantara
sebab-sebab kesalahan menulis (imlaiyyah) dilihat dari beberapa faktor (Khathir
dkk, 1989:294)
1. Faktor
yang berkaitan dengan bahasa Arab sendiri.
Bahasa Arab merupakan
bahasa yang paling unik dan bahasa yang paling kaya disbanding dengan
bahasa-bahasa yang ada di dunia. Mulai dari huruf-hurufnya, bentuk hurufnya,
perobahan-perobahan bentuk kata dari satu kata menjadi beberapa kata baru lain
yang mempunyai makna tersendiri pula, sehingga dikatakan bahwa bahasa Arab
mempunyai ciri-ciri dan kharakter tersendiri, diantaranya seperti:
a.
Ada huruf-huruf yang sama bentuk dan dibedakan bunyinya dengan berbedanya titik
contohnya huruf :"ba,
ta, tsa’”, “ja,
ha, kha”, “dal, dzal”, ”ra, zal”, “sin,
syin”, shad, dhadh”,tha, dha”, ain,
ghain”.
b.
Ada huruf-huruf yang berdekatan tempat keluarnya dalam pengucapan (makhrajnya)
dan berbeda bentuknya contoh antara bunyi dzal, zal, tsa, sin, syin,shad,ha
kecil, ha besar, qaf, kaf.
c.
Ada perbedaan penulisan karena berbedanya suara yang dibunyikan antara panjang
dan pendek, adanyaistilah fashal dan washal yaitu kapan penulisan sebuah kata
boleh di sambung atau dipisah dengan kata –kata lain.
d.
Ada undang-undang penulisannya (kaidah imlak)
e.
Adanya perbedaan ejaan yang biasa digunakan dengan ejaan yang terdapat di
mushaf, seperti ditemukannya istilah ziyadah dan hazaf (penambahan dan
pengurangan huruf) pada penulisan.
f.
Ada kaidah khusus terkait nahwu dan sharaf.
Mengenali bahasa yang akan ditulis
adalah sangat penting karena dari
tulisan yang kita tulis diharapkan orang lain bisa membacanya dan mengerti.
2.
Faktor yang
berkaitan dengan kemampuan personilnya, seperti anak ragu dan tidak dapat
membedakan bunyi atau suara huruf yang berdekatan makhrajnya, dan lemahnya alat
indra (termasuk mata, tangan untuk menulis, mulut sebagai alatucap dan
berbicara). Di sisi lain juga karena anak tidak dapat mengingat atau menangkap
apa yang sudah diajarkan dengan baik karena rendah/lemahnya tingkat kecerdasan.
Di samping itu, jarang latihan menulis tersebut baik di sekolah atau di rumah.
Latihan yang kontiniu itu sangat penting karena merupakan usaha perbaikan dan
peningkatan mutu dan kualitas hasil kerja atau sebuah keterampilan.
3.
Faktor guru
yang kurang menguasai teknik-teknik penulisan aksara Arab, dan kurang
memberikan perhatian kepada siswa, serta tidak melakukan upaya perbaikan
terhadap kesalahan-kesalahan yang ditemukan pada tulisan anak. Guru adalah
faktor yang sangat menentukan berjalannya dan terjadinya proses belajar yang
baik sehingga memperoleh hasil yang baik juga. Di samping itu, guru juga harus
menguasai materi apa yang akan diajarkan, jika berupa keterampilan maka
otomatis dia harus menguasai teori dan prakteknya atau juga harus terampil
lebih dahulu, sehingga dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam
menerapkannya pada anak didik.
4.
Faktor metode
pembelajarannya.
Metode merupakan
faktor yang cukup menentukan untuk mendapatkan hasil yang baik karena apabila
cara atau metode belajarnya tidak baik dan tidak jelas maka hasil yang
diharapkan tidak akan terwujud. Apabila yang diharapkan anak terampil dalam
menulis maka guru harus memilih metode yang cocok untuk pembelajarannya, dan
tidak mungkin memilih metode belajar yang tidak ada unsur praktek/penerapan dan
demontrasinya dari guru yang mengajar, serta latihan yang memadai. Jika tidak
memperhatikan hal ini maka tujuan belajar tidak akan tercapai, sekalipun guru
yang mengajar menguasai teori secara sempurna dan menyampaikan kepada siswanya.
Mahmud Yunus mengatakan bahwa “metode lebih penting dari pada materi”, artinya metode yang
digunakan oleh guru menjadi kunci untuk pencapaian hasil belajar.
Senada
dengan penjelasan di atas bahwa untuk mendapatkan hasil tulisan Arab yang benar
dan baik terhindar dari kesalahan si penulis harus mengetahui dan menguasai
tata cara penulisannya serta kaidah bahasa yang terkait dengannya seperti
kaidah imlak sendiri dan kaidah bahasa Arab (nahwu dan sharaf). Kesalahan dalam
menulis dapat menyebabkan rusaknya makna yang dimaksud atau orang tidak
mengerti apa maksud yang ditulis.
Ahli
bahasa mengemukakan bahwa di antara kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam
menulis yang penting diperhatikan adalah:
1.
Membedakan
antara bunyi suara huruf yang mirip atau berdekat, seperti antara:
ظ,ذ /ذ,ث/ ت,ط / س, ز /ت, د / د,ض / ت,ط / س,ص/ ث,ظ/.غ,خ / أ,ع/ ح,ھـ / ق,ك Apabila
sebuah kata menggunakan salah satu diantara huruf yang hampir sama bunyi
suaranya maka boleh jadi akan ditulis bukan huruf yang dimaksudkan, seperti
kata: اهدناالصراط المستقيمjika
si penulis salah dengar maka akan ditulis إحدناالسراطالمصطقيم Jadi pendengaran yang baik sangat
membantu dalam menulis jika dibacakan atau disebutkan oleh orang lain.
2.
Penulisan
hamzah washal dan hamzah qatha’, jika si penulis tidak mengetahui perbedaan
pemakaian kata-kata yangmenggunakan hamzah qataha’ maka bisa jadi akan
menulisnya dengan hamzah washal atau sebaliknya.
3.
Kelalain
penulis dalam memberi tanda hamzah pada kata yang diawali dengan hamzah qatha’,
padahal satu sisi menulis hamzah tersebut penting untuk membedakan dengan kata
yang diwali dengan hamzah washal.
4.
Penulisan
hamzah yang berada pada tengah kata atau akhir kata. Karena dalam kaidah imlak
penulisan hamzah yang berada pada posisi tersebut berbeda bentuk atau سأل, رءوس, جاء, شىء, rumahnya, seperti kata نشأ
5.
Penulisan alif
mamdudah dan alif maqsurah pada akhir kata . Seperti kata الفتىtidak boleh ditulis dengan alif mamdudah : الفتا
6.
Menghazafkan
(menghilangkan) huruf lam pada alif lam sebelum huruf syamsiah. Ini disebabkan
bunyi lam lebur apabila sesudahnya diiringi oleh salah satu huruf syamsiah,
seperti kata; الشمس akan ditulis اشّمس ini disebabkan karena bunyi huruf lam pada alif lam syamsiah
tidak ada diucapkan ketika dibaca.
7.
Tidak membuang
huruf hamzah pada kata yang seharusnya dibuang, seperti kata ابنpada
kata معاویة بن أبى سفیان
8.
Penulisan ta’
marbuthah dan ta’ mabsuthah pada akhir kata, seperti kata جامعة akan ditulis menjadi
ٌجامعتٌ
9.
Tidak membuang
alif pada kata-kata yang seharusnya dibuang. Hal ini terjadi karena kata-kata
tersebut dibaca panjang hanya dalam pengucapan tidak dalam tulisan,
seperti
kata-kata الله, إله, لكنّ, لكن, ھذا, ھذه,
ذلك, طه :
10.
Tidak membuang
huruf alif lam pada sebuah kata yang dimasuki atau didahului oleh lam ibtida’, seperti : لَ + الّهْوُ maka penulisannya menjadi لّلهو
11.
Penulisan kata
yang dibaca dengan idgham, seperti : من ما رزقناهمkata yang bergaris dibaca dengan
meleburkan bunyi nun kepada mim, maka yang terdengar adalah huruf mim
bertasydid.
12.
Memisahkan
penulisan kata yang harusnya bersambungan, seperti kata;
أمّا, لمّا
13.
Tidak
menuliskan huruf pada sebuah kata sedangkan dia harus ditulis sekalipun tidak
ada diucapkan, seperti penambahan waw pada kata عمرو dan alif pada kata : علموا
14.
Menulis huruf
nun di belakang kata yang bertanwin, karena dalam membacanya yang muncul diakahir
adalah bunyi nun mati, seperti kata: عالم ditulis dengan عالمن
15.
Tidak
menambahkan alif pada yang nasab dengan fathah, seperti kalimat:
إنّ محمدا ذكيُ kata muhammad dibaca “muhammadan” dengan
ketentuan diakahirnya harus ditambahkan alif (disebut juga alif tanwin nasab),
jadi tidak ditulis seperti: محمدً .
16.
Menambahkan
alif pada akhir kata kata yang nasab yang seharusnya tidak ditambahkan alif
tanwin dibelakangnya, معلّمتاً tidak ditulis معلّمةً seperti
17.
Memisahkan
kata-kata yang wajib bersambungan, seperti :حينما ,ريثما , سيّما,حيثما ,كلّما ,قلّما ,طالما (Khuliy,
1982 : 135-37)
Demikianlah penjelasan tentang
kesalahan-kesalahan yang banyak terlihat dalam menulis Arab. Penulis melihat
bahwa sumber kesalahan tersebut didominasi karena kurangnya pengetahuan si
penulis tentang kaidah atau aturan menulis aksara Arab secara rasam imla’iy.
Akan tetapi di sisi lain pengetahuan
terkait kata mufradat Arab, nahu dan sharaf juga sangat penting. Karena
kecenderungan yang terlihat dalam menulis Arab si penulis sering mengabaikan
keterkaitannya dengan cabang ilmu bahasa Arab lainnya, sehingga berakibat pada
kesalahan. Ini berarti bahwa dengan dibekalinya seseorang dengan pengetahuan
yang komprehensif tentang tata cara menulis Arab dan kaidah bahasa Arab itu
sendiri kesalahan dalam menulis dapat diminimalisir. Dengan demikian inilah
diantara faktor yang sangat menentukan bisa atau tidaknya seseorang dalam
menulis Arab, di samping ada factor metode, guru, dan lainnya yang ikut
mempengaruhi berhasil atau tidaknya menulis Arab.
Kegiatan penting lain yang harus
dilakukan jika ingin mendapatkan sebuah keterampilan menulis adalah latihan
secara terus menerus sekalipun dalam waktu yang singkat. Tanpa latihan atau
hanya dengan satu kalilatihan menulis maka belum dapat menghasilkan tulisan
yang benar, baik, dan memuaskan. Latihan yang continiu merupakan pembiasaan
sehingga tidak akan merasa sulit bahkan mudah. (Putri, 2012)
Kesimpulan
:
Dapat kami simpulkan bahwa definisi dari mantuq
ghairu maktub adalah huruf yang di baca atau di lafadzkan tapi tidak tertulis.
Pola penulisan Al-Quran yang berbeda dari kaidah konvensional ada 6 salah
satunya yaitu mantuq ghairu maktub (dapat dibaca tapi tidak tertulis) atau
disebut dengan kaidah hadf (pengurangan huruf).
Dalam pola ini ada beberapa pengurangan ; alif,
ya’, dan wawu dan lam. Pengurangan huruf alif, seperti lafadz : (سبحن) (الرّحمن), Pengurangan
huruf ya’ seperti, (غيرباغ),
Pengurangan
huruf wawu seperti, (يمح الله) (يدع), Pengurangan huruf lam, seperti (الذي)(اليل).
Diantara problematika dan sebab-sebab
kesalahan menulis (imlaiyyah) dilihat dari beberapa faktor (Khathir dkk,
1989:294) yaitu : Faktor yang berkaitan dengan
bahasa Arab sendiri, Faktor yang berkaitan dengan kemampuan personilnya, Faktor
guru yang kurang menguasai teknik-teknik penulisan aksara Arab, Faktor metode
pembelajarannya.
Dapatkan kami simpulkan juga bahwa
kesalahan-kesalahan Menghazafkan (menghilangkan) huruf lam pada alif lam
sebelum huruf syamsiah. Ini disebabkan bunyi lam lebur apabila sesudahnya
diiringi oleh salah satu huruf syamsiah salah satu huruf syamsiah, seperti
kata; الشمس akan ditulis اشّمس ini disebabkan karena bunyi huruf lam pada alif lam syamsiah
tidak ada diucapkan ketika dibaca. salah satu huruf syamsiah, seperti kata; الشمس akan ditulis اشّمس ini disebabkan karena bunyi huruf lam pada
alif lam syamsiah tidak ada diucapkan ketika dibaca.
Daftar
Pustaka :
Disarikan dari Kitab Manahil ‘Irfan
fi Ulumil Quran (Kairo : Maktabah Isa Al-Halabi, tt. H. 369)
Hula, Ibnu Rawandhy N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT:
Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan
Amai Gorontalo, 2016.
Khuliy,
Muhammad Ali, 1982. Asalib Tadris al-Lughah al-‘Arabiyah, Riyadh :
Mamlakah as-Su’udiyah
Putri, N. (2012).
PROBLEMATIKA MENULIS BAHASA ARAB. Al-Ta Lim.
https://doi.org/10.15548/jt.v19i2.19
Rusydi Khathir dkk, Mahmud:
1989. Tharuq Tadris al-Lughah al-Arabiyah
wa al-Tarbiyah al-Diniyah, ttp
[1]
Hula, Ibnu Rawandhy
N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab
dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
[2] Disarikan dari Kitab
Manahil ‘Irfan fi Ulumil Quran (Kairo : Maktabah Isa Al-Halabi, tt. H.
369)
[3]
Hula, Ibnu Rawandhy
N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab
dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
Komentar
Posting Komentar